Pertamina Sungai Pakning Raih Penghargaan Internasional Tata Kelola Gambut

Pertamina Sungai Pakning Raih Penghargaan Internasional Tata Kelola Gambut
Pertamina Sungai Pakning Raih Penghargaan Internasional Tata Kelola Gambut

SEKILASRIAU.COM – Upaya PT Pertamina Patra Niaga Refinery Unit (RU) Dumai Unit Produksi Kilang Sungai Pakning dalam menjaga ekosistem gambut dan memperkuat ketangguhan masyarakat mendapat pengakuan di tingkat internasional.

Melalui program “Gambut Lestari Alam Menghidupi”, Pertamina Kilang Sungai Pakning meraih penghargaan Best Social Welfare Initiative of the Year dalam ajang 17th Corporate Social Responsibility (CSR) Award and Summit 2026 yang digelar UBS Forums di Pune, India.

Penghargaan tersebut diterima langsung oleh Manager Production PT Pertamina Patra Niaga Kilang Sungai Pakning, Kabupaten Bengkalis, Triadi Lukito, pada September 2026.

Program tersebut dinilai memiliki pendekatan yang mengintegrasikan pencegahan dan penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla), tata kelola ekosistem gambut, serta pemberdayaan masyarakat di sekitar wilayah operasional perusahaan, khususnya Kecamatan Bukit Batu, Kabupaten Bengkalis.

Program “Gambut Lestari Alam Menghidupi” tidak hanya berfokus pada pemadaman ketika karhutla terjadi.

Pertamina mengembangkan pendekatan yang mencakup pemenuhan inventaris pemadaman, penguatan tata kelola hidrologi gambut, pelestarian ekosistem gambut, hingga peningkatan koordinasi lintas sektor melalui rencana kontingensi penanganan karhutla.

Salah satu inovasi yang dikembangkan adalah Nozzle Gambut, perangkat yang dirancang untuk membantu pemadaman api, baik di permukaan maupun pada lapisan bawah lahan gambut.

Teknologi tersebut membantu proses pemadaman dan pendinginan pada lapisan gambut sehingga potensi munculnya kembali api dapat ditekan.

Selain Nozzle Gambut, Pertamina juga mengembangkan Expintable, yakni sumur hidran portabel yang dirancang untuk membantu penanganan karhutla di lokasi yang jauh dari sumber air.

Sementara untuk aspek pencegahan, dikembangkan Akurrat, alat pengukur level air gambut yang berfungsi sebagai salah satu sistem peringatan dini.

Informasi mengenai ketinggian air gambut tersebut dapat digunakan sebagai dasar untuk meningkatkan kewaspadaan dan melakukan langkah antisipasi ketika kondisi gambut mulai mengering dan lebih rentan terbakar.

Ketiga inovasi tersebut dikembangkan berdasarkan permasalahan yang dihadapi masyarakat di wilayah rawan karhutla.

Selain dirancang agar mudah digunakan di lapangan, inovasi tersebut juga memiliki potensi untuk diterapkan di wilayah lain yang memiliki karakteristik gambut dan risiko kebakaran serupa.

Triadi Lukito mengatakan pendekatan pengelolaan gambut harus dilakukan secara menyeluruh, bukan hanya ketika kebakaran terjadi.

“Pendekatan yang menyeluruh, bukan hanya bagaimana kita memadamkan api, tetapi bagaimana kita mencegahnya, menjaga ekosistemnya, dan memastikan masyarakat tetap dapat memperoleh manfaat dari lahan gambut tanpa merusaknya,” ujar Triadi.

Menurutnya, penghargaan internasional tersebut menjadi apresiasi terhadap kolaborasi antara perusahaan, masyarakat, pemerintah dan pemangku kepentingan dalam menghasilkan solusi yang sesuai dengan kebutuhan di lapangan.

“Kami akan terus mendorong inovasi dan memperkuat kolaborasi agar upaya yang dilakukan di Sungai Pakning dapat memberikan dampak yang lebih luas,” katanya.

Program tersebut juga diarahkan agar masyarakat dapat memanfaatkan lahan gambut sebagai sumber kehidupan secara berkelanjutan.

Sejumlah kegiatan dikembangkan, antara lain budidaya perikanan seperti ikan gabus dan toman, serta pertanian ramah lingkungan dengan komoditas lokal seperti kopi liberika, tanaman hortikultura dan sagu.

Dengan pendekatan tersebut, pengelolaan gambut tidak hanya diarahkan untuk mengurangi risiko karhutla, tetapi juga membuka peluang ekonomi bagi masyarakat tanpa mengabaikan kelestarian ekosistem.

Triadi mengatakan penghargaan yang diterima di Pune menjadi motivasi bagi perusahaan untuk terus mengembangkan program dan inovasi berbasis kebutuhan masyarakat.

“Bagi kami, pengelolaan gambut yang berkelanjutan tidak hanya berbicara tentang penanganan kebakaran, tetapi juga bagaimana melakukan pencegahan, menjaga tata air gambut, memperkuat kapasitas masyarakat, dan memastikan lahan gambut tetap memberikan manfaat secara berkelanjutan,” ujarnya.

“Penghargaan ini menjadi motivasi bagi kami untuk terus mengembangkan inovasi dan memperkuat kolaborasi bersama masyarakat serta para pemangku kepentingan,” pungkas Triadi. (Red)