Siapa sangka, dari dapur sederhana dan kebun hidroponik di Kelurahan Tanjung Palas, Kota Dumai, lahir produk pangan lokal yang mampu mencuri perhatian di panggung nasional.
Biskuit sorgum, brownies, hingga keripik buatan tangan perempuan-perempuan Kelompok Wirani Rejosari tak sekadar menjadi camilan. Di balik renyahnya keripik dan manisnya brownies, tersimpan cerita tentang perjuangan melawan keterbatasan, kepedulian terhadap kesehatan anak, hingga keberanian membangun usaha.
Mereka membawa nama UMKM JELITA, singkatan dari Jajanan Enak, Lestari, Inovatif, Tinggi Asupan.
Di ajang Pertamina SMEXPO Pekanbaru 2026 bertema “Lokal Jadi Vokal”, produk mereka tampil di antara ratusan UMKM unggulan nasional. Selama tiga hari pameran pada 25–27 September 2026 di Living World Pekanbaru, aneka kudapan berbahan sorgum itu laris terjual dan menghasilkan transaksi jutaan rupiah.
Namun, kisah sukses ini tidak dimulai dari panggung pameran.
Cerita mereka justru berawal dari sebuah persoalan sederhana di Posyandu.
Di Posyandu Rejosari, ada kebutuhan yang tak bisa menunggu makanan tambahan bergizi bagi balita.
Ketika dukungan dana Pemberian Makanan Tambahan (PMT) sempat terkendala, para kader dihadapkan pada kenyataan bahwa kebutuhan tumbuh kembang anak harus tetap menjadi perhatian.
Mereka bisa saja menunggu keadaan membaik. Namun, Jummi Sulistiani bersama rekan-rekannya memilih mencari jalan keluar.
“Karena kendala PMT ini kita bentulaklah kelompok Wirani,” kata Jummi, mengenang awal terbentuknya kelompok Wirani.
Dari kegelisahan itulah sebuah gagasan mulai tumbuh. Mereka mengajukan proposal kepada PT Pertamina Patra Niaga Kilang Dumai agar kelompok tersebut mendapat kesempatan menjadi mitra binaan dan harapan tersebut terpenuhi.
“Alhamdulillah disetujui. Dari sana kita dapat hidroponik, panel surya, sekaligus dapur produksi,” ujar Jummi.
Kelompok yang berdiri pada 2025 itu menjadi kelanjutan dari Kelompok Sehati, yang sebelumnya berfokus pada penanganan stunting.
Dari sepuluh perempuan yang tergabung di dalamnya, lahir semangat yang sama dengan tekad kegiatan sosial tak hanya bergantung pada bantuan, tetapi juga mampu menghasilkan sumber pendanaan secara mandiri.
Di tangan para perempuan Wirani Rejosari, pekarangan rumah bukan lagi sekadar halaman.
Dengan memanfaatkan teknologi hidroponik, lahan yang terbatas disulap menjadi kebun sayuran produktif dengan total 720 lubang tanam.
Pakcoy dan selada ditanam secara bergantian. Setiap bulan, kebun itu mampu menghasilkan sekitar 40 hingga 50 kilogram sayuran segar.
Hasil panennya tidak hanya dijual untuk memperoleh pendapatan. Keuntungan dari usaha hidroponik juga dialokasikan untuk mendukung kebutuhan balita dan lansia di wilayah Posyandu Rejosari serta Posyandu Seri Pulau.
Di sinilah usaha dan kepedulian sosial bertemu.
Sayuran yang tumbuh dari kebun menjadi bagian dari upaya menyediakan makanan tambahan bergizi. Hasil usaha juga membantu kelompok memberikan perhatian kepada warga lanjut usia.
Jika sebelumnya kegiatan Posyandu hanya dihadiri sekitar 10 hingga 15 balita, kini jumlahnya meningkat menjadi lebih dari 50 balita.
Angka itu menjadi gambaran bahwa upaya para kader mulai mendapat sambutan masyarakat.
Perhatian mereka bahkan menjangkau warga lanjut usia. Pemeriksaan kesehatan gratis, seperti pengecekan kolesterol, asam urat, dan gula darah, turut disediakan.
“Masyarakat, terutama lansia, kebanyakan kolesterol tinggi tapi mereka enggak tahu. Kalau mau ngecek mandiri terkendala biaya. Makanya kita sediakan dari hasil hidroponik ini,” jelas Jummi.
Bagi Wirani Rejosari, keberhasilan bukan hanya soal berapa banyak sayuran yang dipanen. Lebih dari itu, hasil usaha harus kembali memberi manfaat kepada masyarakat.
Perjalanan Wirani Rejosari tidak berhenti di kebun hidroponik.
Mereka mulai merambah dunia usaha pangan lokal dengan mengolah sorgum menjadi berbagai produk makanan.
Bahan bakunya dipasok oleh Kelompok Alam Tani, kelompok binaan Pertamina lainnya yang membudidayakan sorgum di lahan gambut di Riau.
Dari sinilah dua kelompok binaan bertemu dalam satu rantai usaha. Satu kelompok membudidayakan bahan baku, sementara kelompok lainnya mengolahnya menjadi produk bernilai tambah.
Biji sorgum yang sebelumnya belum akrab bagi sebagian masyarakat mulai disulap menjadi biskuit, brownies, dan keripik.
Sorgum dipilih karena memiliki kandungan serat dan sejumlah zat gizi, termasuk zat besi. Bahan pangan ini juga dapat menjadi alternatif sumber karbohidrat dengan karakteristik yang berbeda dari tepung terigu.
Bagi Wirani Rejosari, sorgum bukan sekadar bahan baku. Tanaman ini menjadi peluang untuk menghadirkan pangan lokal yang lebih beragam sekaligus membuka jalan usaha bagi perempuan.
“Biskuit sorgum itu juga kita berikan ke balita-balita kurang gizi di Posyandu,” tutur Jummi.
Selain sorgum, mereka mengembangkan produk olahan ikan patin, seperti bakso dan nugget.
Produk tersebut dimanfaatkan sebagai variasi menu PMT sekaligus dikembangkan untuk pasar komersial.
Dapur produksi pun menjadi ruang belajar bagi para anggota. Mereka tidak hanya belajar mengolah bahan makanan, tetapi juga mengembangkan keterampilan, menjaga kualitas, dan membangun kepercayaan diri.
Produk JELITA telah mengantongi sertifikat Pangan Industri Rumah Tangga (PIRT) serta sertifikasi halal. Para anggota juga mengikuti pelatihan, termasuk pembuatan pastry, untuk meningkatkan kemampuan produksi.
Perlahan, dapur yang semula menjadi fasilitas pendukung berubah menjadi tempat lahirnya berbagai peluang ekonomi.
Ada satu hal menarik dari kebun hidroponik Wirani Rejosari.
Di balik sayuran yang tumbuh subur, ada teknologi energi baru terbarukan yang membantu menekan biaya operasional.
Panel surya yang didukung Pertamina Patra Niaga Kilang Dumai digunakan untuk memenuhi kebutuhan listrik instalasi hidroponik.
Sebelumnya, biaya listrik operasional mencapai sekitar Rp700 ribu per bulan. Setelah memanfaatkan panel surya, pengeluaran tersebut diklaim turun hingga nyaris nol rupiah.
Energi matahari yang ditangkap pada siang hari disimpan dalam baterai untuk digunakan pada malam hari. Sambungan listrik PLN tetap tersedia sebagai cadangan, terutama ketika cuaca mendung atau hujan berlangsung selama dua hari berturut-turut.
Penghematan itu memberi ruang lebih besar bagi kelompok untuk mengembangkan usahanya.
Sebab, bagi usaha kecil, biaya operasional yang berhasil ditekan dapat membantu menjaga keberlanjutan kegiatan produksi.
Di Wirani Rejosari, pertanian, pangan lokal, dan energi terbarukan tidak berjalan sendiri-sendiri. Ketiganya saling menopang dalam satu upaya pemberdayaan masyarakat.
Perubahan yang dibangun Wirani Rejosari mulai terlihat dari sisi sosial maupun ekonomi.
Menurut data yang disampaikan kelompok, delapan anak yang sebelumnya terindikasi stunting kini telah kembali tumbuh normal.
Capaian tersebut menjadi kabar menggembirakan bagi para kader. Meski demikian, pemantauan pertumbuhan anak dan pemenuhan gizi tetap perlu dilakukan secara berkelanjutan agar kesehatan mereka terjaga.
Di sisi ekonomi, berbagai unit usaha kelompok yang beranggotakan sepuluh perempuan itu mencatatkan akumulasi pendapatan sekitar Rp40 juta dalam kurun waktu tiga tahun terakhir.
Pendapatan tersebut berasal dari berbagai kegiatan usaha yang dijalankan kelompok.
Angka itu bukan sekadar catatan transaksi. Di baliknya terdapat waktu, tenaga, dan kemauan para anggota untuk terus belajar membangun usaha.
Dukungan program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) PT Pertamina Patra Niaga Kilang Dumai menjadi salah satu faktor yang membantu mempercepat perkembangan kelompok. Namun, fasilitas saja tidak cukup. Peralatan harus dioperasikan, produk harus dipasarkan, dan usaha harus dikelola agar manfaatnya terus berlanjut.
Di sinilah peran para perempuan Wirani Rejosari menjadi penting: mereka bukan hanya penerima program, tetapi juga pelaku yang menggerakkan kegiatan tersebut.
Perkembangan Wirani Rejosari turut menarik perhatian Pemerintah Kelurahan Tanjung Palas.
Lurah Tanjung Palas, Herfina Herman, yang baru sekitar satu bulan bertugas saat memberikan tanggapan, mengaku terkesan melihat perkembangan kelompok tersebut.
“Saya cukup kaget melihat perkembangannya. Luar biasa, yang awalnya kader posyandu kemudian bisa berkembang pesat menjadi kelompok mandiri,” ujar Herfina.
Dikatakannya, keterlibatan aktif para perempuan membuktikan bahwa kegiatan sosial dapat berkembang menjadi aktivitas produktif yang memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat.
“Saat ini kita melihat perempuan-perempuan yang sangat aktif dan mampu mengembangkan kegiatan produktif bagi masyarakat. Ini membuktikan bahwa perempuan bisa menjadi motor penggerak perubahan di lingkungannya,” puji Herfina.
Ia menilai kolaborasi masyarakat, pemerintah, dan Pertamina perlu terus diperkuat agar manfaat program tidak berhenti pada satu kelompok saja.
Harapannya, Wirani Rejosari dapat menjadi contoh bagi kelompok perempuan lainnya untuk mengembangkan potensi lokal di wilayah masing-masing.
Sementara itu, Area Manager Communication, Relations, & CSR PT Pertamina Patra Niaga Refinery Unit Dumai, Tengku Muhammad Rum, menegaskan bahwa keberhasilan pemberdayaan tidak cukup diukur dari fasilitas yang diserahkan.
“Kami ingin program pemberdayaan ini tidak berhenti pada penyerahan fasilitas semata. Yang terpenting adalah bagaimana masyarakat mampu memanfaatkan fasilitas tersebut, meningkatkan keterampilan, dan menciptakan manfaat yang berkelanjutan,” tegasnya.
Ia menambahkan, Wirani Rejosari memperlihatkan bagaimana kegiatan sosial, ketahanan pangan, energi terbarukan, dan UMKM dapat berjalan beriringan.
“Ketika semua elemen ini dapat berjalan bersama, dampaknya tentu menjadi jauh lebih luas bagi masyarakat,” pungkasnya.
Setelah melewati berbagai proses, kesempatan yang lebih besar akhirnya datang.
Kelompok Wirani Rejosari membawa produk JELITA ke Pertamina SMEXPO Pekanbaru 2026, yang digelar di Living World Pekanbaru pada 25–27 September 2026.
Mengusung tema “Lokal Jadi Vokal”, pameran tersebut menjadi ruang bagi pelaku UMKM untuk memperkenalkan produk, memperluas akses pasar, memanfaatkan digitalisasi, serta membuka peluang pertemuan bisnis.
Di antara ratusan UMKM unggulan nasional, produk olahan sorgum dari Dumai mendapat kesempatan untuk dikenal lebih luas.
Biskuit sorgum, brownies, dan keripik yang mereka bawa menarik perhatian pengunjung.
Selama tiga hari pameran, produk tersebut laris terjual dengan nilai transaksi mencapai jutaan rupiah.
Bagi kelompok yang tumbuh dari kegiatan Posyandu, pengalaman ini menjadi langkah penting.
Mereka bukan hanya membawa produk untuk dijual. Mereka juga membawa cerita tentang bagaimana sepuluh perempuan membangun usaha dari kepedulian terhadap kesehatan masyarakat.
Yani, salah seorang anggota kelompok, merasakan pengalaman tersebut sebagai momen yang membekas.
“Bagi kami, ini adalah tentang keberanian untuk melangkah, belajar, dan memperkenalkan mimpi kecil kami kepada lebih banyak orang. Ada rasa bangga dan haru ketika produk kami dihargai, apalagi ketika ada yang tertarik dan bertanya tentang perjuangan kami,” ungkap Yani.
Tantangan tetap ada. Sorgum belum dikenal luas oleh seluruh lapisan masyarakat. Karena itu, edukasi mengenai bahan pangan tersebut menjadi pekerjaan rumah yang harus terus dilakukan. Namun, bagi Yani, kesempatan memperkenalkan produk kepada konsumen baru sudah merupakan pencapaian tersendiri.
“Kami yakin keberhasilan pertama adalah ketika orang mulai mengenal, mendengar, dan percaya pada cerita kita. Dan kami sudah berhasil melewati satu tahapan tadi. Kami percaya, suatu hari nanti mimpi besar kami akan menjadi nyata,” tambahnya.
Pameran itu pun menjadi lebih dari sekadar tempat berjualan. Bagi para anggota, pengalaman tersebut membuka wawasan mengenai pemasaran, jejaring usaha, dan peluang untuk membawa JELITA ke pasar yang lebih luas.
Perjalanan Wirani Rejosari memperlihatkan bagaimana sebuah persoalan di Posyandu dapat memunculkan gagasan pemberdayaan yang lebih luas.
Dari kebutuhan PMT, para kader mulai mengembangkan hidroponik. Dari hasil usaha, mereka mendukung kegiatan sosial. Dari sorgum yang dibudidayakan kelompok lain, lahir produk pangan lokal yang memiliki nilai jual.
Panel surya membantu menekan biaya operasional, sementara dapur produksi menjadi ruang bagi perempuan untuk meningkatkan keterampilan dan mengembangkan usaha.
Kini, melalui JELITA, mereka memiliki kesempatan untuk memperkenalkan produk olahan sorgum dari Dumai kepada pasar yang lebih luas.
Jalan mereka tentu belum selesai. Konsistensi produksi, perluasan pemasaran, pengelolaan usaha, dan keberlanjutan manfaat sosial tetap menjadi tantangan ke depan.
Namun, satu hal telah mereka tunjukkan bahwa keterbatasan bukan alasan untuk berhenti mencoba.
Dari pekarangan rumah di Tanjung Palas hingga panggung nasional di Pekanbaru, perempuan-perempuan Wirani Rejosari membuktikan bahwa perubahan besar dapat dimulai dari langkah sederhana.
Dan terkadang, langkah itu bermula dari sebuah tekad kecil di Posyandu untuk memastikan anak-anak tetap mendapatkan makanan bergizi. *












