Ada yang terasa begitu menyakitkan ketika rakyat yang seharusnya hidup berdampingan justru harus saling berhadapan.
Emosi meledak, suara meninggi, bahkan tangan pun ikut bicara. Semua itu terjadi bukan tanpa sebab. Ada persoalan yang mendasari, ada kebijakan yang dipersoalkan, hingga akhirnya masyarakat berada di dua sisi yang berseberangan.
Lalu, di mana pemimpin ketika rakyat membutuhkan kehadirannya?
Ketika masyarakat saling berhadapan, emosi memuncak, bahkan sampai terjadi baku hantam, rakyat tentu berharap ada sosok yang berdiri di tengah. Bukan untuk memihak, melainkan untuk meredam emosi, mendengar persoalan dan mencari jalan keluar.
Ironisnya, persoalan yang sama, bahkan di lokasi yang sama, kembali terjadi secara berurutan dengan pemicu persoalan yang serupa.
Semestinya, kejadian seperti ini menjadi alarm bagi para pemimpin. Sebab ketika persoalan terus berulang dan masyarakat mulai berhadap-hadapan, berarti ada sesuatu yang belum benar-benar diselesaikan.
Namun yang terasa miris, ketika rakyat sibuk mempertahankan kepentingannya masing-masing, perhatian terhadap persoalan di lapangan justru seolah tidak terlihat dari orang-orang yang seharusnya berada paling depan dalam menyelesaikannya.
Orang nomor satu tentu memiliki kesibukan dan tanggung jawabnya sendiri. Ibadah adalah kewajiban setiap manusia dan merupakan sesuatu yang patut dihormati.
Tetapi menjadi seorang pemimpin juga merupakan amanah yang tidak ringan.
Ada waktu untuk mendekatkan diri kepada Tuhan, dan ada pula waktu ketika seorang pemimpin harus hadir di tengah rakyat yang sedang membutuhkan pertolongan.
Begitu pula dengan orang nomor dua.
Ketika masyarakat sedang memanas, sikap diam dan seolah tidak peduli justru dapat menimbulkan pertanyaan baru di tengah masyarakat.
Sebab rakyat tidak membutuhkan pemimpin hanya ketika suasana sedang baik-baik saja.
Justru kepemimpinan diuji ketika keadaan sedang sulit.
Ketika dua kelompok masyarakat mulai berhadap-hadapan, ketika suara teriakan lebih keras daripada suara dialog, ketika tangan mulai terangkat dan emosi mulai menguasai akal sehat, saat itulah seorang pemimpin seharusnya hadir. Turun ke lapangan.
Mendengar kedua belah pihak. Menenangkan masyarakat. Memastikan tidak ada korban.
Dan mencari solusi atas persoalan yang menjadi sumber konflik.
Rakyat tidak sedang meminta pemimpinnya menyelesaikan semua persoalan dalam hitungan menit. Rakyat hanya ingin melihat bahwa pemimpinnya peduli dan hadir.
Sebab terkadang, kehadiran seorang pemimpin di tengah konflik jauh lebih berarti daripada seribu kata yang disampaikan dari balik meja.
Jangan sampai masyarakat kemudian merasa bahwa mereka hanya dibutuhkan ketika pemilu tiba, ketika suara mereka diperlukan, atau ketika dukungan politik sedang dicari.
Setelah mendapatkan amanah, rakyat tetaplah rakyat yang harus dilindungi, didengar dan diperjuangkan.
Hari ini mungkin mereka yang berbeda kepentingan sedang baku hantam. Besok, bisa jadi persoalan yang sama menimpa kelompok masyarakat lainnya.
Karena itu, konflik di tengah masyarakat seharusnya menjadi alarm bagi para pemimpin. Bukan sesuatu yang cukup ditonton dari jauh.
Pemimpin tidak hanya dibutuhkan ketika rakyat bersorak. Pemimpin justru paling dibutuhkan ketika rakyat sedang marah, kecewa dan hampir kehilangan kendali.
Pada akhirnya, pertanyaannya sederhana timbul, Saat rakyat baku hantam, pemimpin sibuk apa?
Pertanyaan itu bukan sekadar sindiran melainkan dari pengingat bahwa di balik setiap jabatan terdapat amanah, dan di balik setiap amanah ada pertanggungjawaban.
Rakyat mungkin lupa banyak hal. Tetapi rakyat biasanya tidak akan lupa siapa yang hadir ketika mereka sedang membutuhkan, dan siapa yang memilih diam ketika mereka sedang berhadapan.
Penulis: Do


